Artikel

Melirik Usia Kota Pariaman Yang Ke Sembilan Tahun Perlu Komitmen Bersama

oleh: Efa Nurza

2011-07-25 09:52:08 Semenjak menjadi Kota otonom tahun 2002 yang lalu Kota Pariaman terus melakukan pembenahan...
VIDEO STREAMING
Flash Player dibutuhkan untuk memutar video.
Budaya

Lasuang Batu Pada Era Globalisasi Dapat Menjadi Objek Wisata Tradisional

oleh: Efa Nurza

2011-07-08 09:21:06 Dalam era globalisasi ini di Kota Pariaman maupun Kabupaten Padangpariaman semua masyarakat telah...
SUB DOMAIN
LPSE PARIAMAN
Provinsi Sumbar
Kominfo Kota Pariaman

Lasuang Batu Pada Era Globalisasi Dapat Menjadi Objek Wisata Tradisional

Efa Nurza
Jumat, 08 Juli 2011
Lasuang Batu Pada Era Globalisasi Dapat Menjadi Objek Wisata Tradisional

Efa Nurza 

Dalam era globalisasi ini di Kota Pariaman maupun Kabupaten Padangpariaman semua masyarakat telah mempergunakan bermacam teknologi mesin untuk melancarkan aktifitas sehari-hari. Mulai dari yang paling kecil sampai yang paling besar masyarakat telah memakai tenaga mesin. Padahal, kalau melihat kebelakang atau sejarah masyarakat sangat banyak mempergunakan tenaga manusia untuk kelacaran perkerjaan.

Seperti lasuang batu, kalau dahulu alat tersebut sangat berafaat bagi kehidupan seorang manusia dalam daerah ini. Bahkan hampir setiap rumah mempunyai lansung batu. Kenapa tidak, lasung batu banyak kegunaannya, salah satu untuk menumbuk padi petani yang baru pulang dari sawah untuk dijadikan beras. Pasalnya, beras adalah salah satu makan pokok masyarakat hingga kini.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, keberadan lasung batu hampir tidak ada lagi di rumah-rumah penduduk dalam daerah, kalaupun ada hanya berberapa dan dapat dihitung dengan jari manusia. Sepertinya, lasung batu itu hilang ditelan zaman. Kenapa tidak, saat ini masyarakat lebih banyak mempergunakan jasa huller untuk menumbuk padi menjadi beras.

Kemudian lagi dari pengamatan wartawan koran ini, kalaupun masih ada yang tersisa lasuang batu kondisinya tidak terawat. Seperti dibiarkan oleh pemiliknya, karena lasuang batu telah kalah bersaing dengan huller. Padahal, dulu disamping untuk menjadikan padi menjadi beras juga berguna untuk menumbuk beras menjadi tepung. Tidak itu saja, juga ubi kayu yang akan dijadikan tepung juga memakai jasa lasuang batu.

Sekiranya, boleh dikatakan, lasuang batu hanya tinggal nama. Pasalnya, ada yang telah dijadikan nama-nama rumah makan, nama-nama daerah, nama-nama mobil dan masih banyak lagi lasuang batu dijadikan nama oleh masyarakat saat ini. Melihat kondisi demikian, sebaiknya pemerintah daerah baik Kota Pariaman maupun Kabupaten Padangpariaman menjadi lasuang batu itu sebagai sarana objek wisata. Sehingga lasuang batu itu menjadi tontotan menarik para pengunjung kalau melihat salah satu objek wisata di daerah ini

Di Korong Pasar Limau, Kenagarian Paritmalintang, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padangpariaman lasuang batu seperti telah dijadikan barang antik. Kenapa tidak lasung batu itu telah di format oleh pemilik sebagai tempat santai sambil duduk-duduk. Bahkan lokasinya juga telah di tata dengan baik. Namun, dalam pengunaan sangat jarang di pakai ibu-ibu rumah tangga.

Kalaupun dipergunakan hanya sekali-kali, apala bila sangat mendesak. Bahkan dijadikan tempat melakukan pertemuan kecil-kecilan oleh pemilik rumah. Padahal, kalau diberdayakan, lasuang batu disamping telah dijadikan nama daerah dan rumah makan, juga dapat dijadikan objek wisata. Kenapa tidak, tidak dibuat sebuah tari lasung batu. Adapun, ibu-ibu rumah tangga di daerah ini dengan memakai pakaian adat minangkabau memperagakan operasional lasuang batu dan diiringi dengan gandang tasa serta nyanyian-nyanyia tradisonal daerah ini.

Alakah indah, kalau sempat itu dijadikan. Kenapa di daerah lain luar pulau Sumatra Barat ini, banyak alat-alat tradisionalnya dijadikan alat kesenian. Sehingga menjadi sebuah daya tarik bagi masyarakat yang datang. Disinilah peranan Dinas Pariwisata dalam membuat konsep atau program, bagaimana lasuang batu dijadikan sebuah daya tarik bagi pengunjung. Mari kita tunggu akses para dinas-dinas pariwisata, baik Sumatra Barat maupun Kota Pariaman maupun Padangpariaman menjadi aset lasuang batu, sebagai alat tradisonal yang bisa mnjadi salah satu daya tarik touris manca negara maupun domestik untuk datang ke daerah ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman H Ridwan N kepada POSMETRO menyatakan, persoalan lasuang batu dijadikan salah satu daya tarik objek wisata, di Kota Pariaman saat ini telah membuat tari lasuang. Akan tetapi, tari lasuang yang dimainkan oleh anak-anak sangar-sangar seni Kota Pariaman hanya lasuang saja. Tidak lasuang batu, seperti yang diperanakan oleh ibu-ibu rumah tangga pada tempo dulu.

Dimana katanya, tari lasuang kali ini, diperankan oleh manusia sebagai pengerak kayu lasuang dengan mengayunkan ke dalam lubang lasuang. Adapun, lasuangnya dibuat dengan kayu. Tari lasuang tersebut, dalam Tour De Singkarak 2011 yang telah di gelar. Semua itu disamping memeriahkan Tour de Singgkarak tahun ini juga untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pariaman ke 9.

Namun demikian, katanya, untuk menjadikan lasuang batu sebagai salah satu objek wisata di Pantai Pariaman, tentu ia akan memikirkan ke depan. Sebab, lasuang batu itu sangat berat dan sedikit sulit untuk membawa dimana, tari lasuang batu akan ditampilkan nantinya. Meski begitu, ia juga mengakui, kalau lasuang batu telah kalah bersaing dengan huller.

Kalau dahulu, sangat banyak dipergunakan masyarakat untuk menumbuk padi milik masyarakat petani yang pulang dari sawah untuk dijadikan beras. Tapi, sekarang tidak terpakai lagi. Kebayakan lasuang batu, dibiarkan terlantar di belakang-belakang rumah penduduk saat ini.

Makanya, ke depan bagaimana lasuang batu itu menjadi salah satu aset wisata di Kota Pariaman ini. Kalau tidak demikian, tentu nasib lasung batu yang dahulu bermafaat, sekarang, karena kalah bersaing dengan huller tidak dipergunakan lagi. Dalam persoalan itu, hanya pemirintah yang bisa menjadikan, kasuang batu kembali bermafaat untuk kemajuan pariwisata daerah. Mari kita tunggu kiprah pemerintah dalam menjadikan lasuang batu menjadi daya tarik dunia pariwisata khusus Kota Pariaman dan Kabupaten Padangpariaman sebagai objek wisata alat-alat tradisional atau menjadi sebuah tari adat minangkabau ciri khas daerah ini. Bravo Kota Pariaman.

Share on:

Komentar

okzalendri
jln.diponegoro no 11 pekanbaru
Rabu
29 Februari 2012 | 09:57:00 WIB
semoga kota pariaman menjadi kota yang lebih berlandaskan agama untuk keaslahtan umat,,,,maju kota tapi tidak mengeyampingkan landasan agama islam,,,,hidupkanlah mesjid untuk sholat berjemaah para pns dan pengajian rutin sperti program pemerintah kabupaten rokan hulu yang ada di riau 

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar