Rabu, 16 Mei 2012
oleh: Efa Nurza
oleh: Efa Nurza

Binjai Chaniago
Sejak jaman Apollo hingga jaman Napoleon sejak masa Abraham Lincoln hingga masa Barack Obama dan dari masa Soekarno Hingga masa Susilo Bambang Yudoyono dari masa Nasri Nasar hingga masa Mukhlis R yang namanya jabatan pimpinan sangat indah untuk diperebutkan dengan berbagai dalih dan dalil untuk menghalalkan dan melegalkan tindakan pencapaian kekuasaan yang kesemuanya hanya Metafora Kekuasaan.
Bila kita selami lebih jauh mengapa mereka meminta jadi pemimpin padahal jabatan itu merupakan kerja yang sangat berat untuk diemban baik secara moril maupun materil namun mereka begitu ngotot untk mendapatkannya maka dari sini bisa kita menduga bahwa dibalik itu ada misi-misi tertentu yang sedang diemban tinggal lagi apa misi tersebut menyangkut kepentingan orang banyak atau kepentingan kelompok tertentu.
Bila kepentingan itu bermula dari bincangan lapau kemudian diaplikasikan dalam sebuah bentuk wujud persekutuan antar lapau dan berkembang ke parlemen tim perumus dan pencarian tokoh untuk diapungkan maka keputusan tersebut merupakan keputusan arus bawah yang tidak banyak mengeluarkan kos karena datangnya dari bawah keatas alias Mambusek dari bumi sehingga hasil pondamennyapun sangat kokoh meski didera berbagai maneuver propaganda maupun kebiri informasi namun mata massa tidak dapat dikibuli sebab dalam lenggang tampian dapat dipisah mana atah dan mana yang beras.
Tinggal lagi seberapa besar penguasaan Media Informasi massa yang bisa di koordinir menjadi corong silaturahmi sebab seberapa benarpun jalan yang sedang diperjuangkan oleh suatu organ bila tidak disertai dengan modul informasi yang merakyat maka di ibaratkan seorang tokoh besar sedang berbicara di jutaan umat tanpa mempergunakan micropone maka perbuatan tersebut sama saja dengan membadut dihutan belantara.
Ada lagi kehendak yang datang dari langit dimana kehendak ini datangnya dari ambisi seseorang untuk merubah statusnya, keluargnya maupun kelompoknya maka dia akan memanfaatkan musim kering untuk menebar embun yang membuat tanah semakin bergantung dan berharap disirami sedangkan siraman itu hanya selogan untuk dikejawantahkan.
Andaipun saat ini musim hujan dengan istilah jaguang maupiah padi manjadi karambie manyulo pulo dan bagan bagulimang lauak maka sang aktor akan mendatangkan dewi durga sebagai pelipur penat sehingga penduduk yang kekenyangan akan terpana bagai tercucuk hidung dan mengiyakan sesuatu yang tidak dia mengerti.
Sementara media informasi massa diramikan dengan berbagai piagam penghargaan dan pariwara ucapan terimakasih.
Dari analisa diatas maka kunci menggapai kekuasaan adalah seberapa besar kita menguasai media informasi massa dan seberapa bisa membaca cuaca sehingga mengerti pola serangan apa yang dipergunakan.
Apakah itu serangan diklat berirama atau serangan kekerabatan.
Pengalaman yang sudah-sudah menunjukkan disaat ekonomi sedang subur maka sang orator mendatangkan artis ibukota untuk berpesta dan ketika ekonomi dilanda resesi Subsidi BBM jadi kendali. (Medio 2009)